Banyak yang belajar hanya untuk menjadi pintar. Banyak pula yang berpendapat bahwa pelajaran dan pendidikan dilakukan agar kita bisa menjadi pintar. Tapi apa betul menjadi pintar dan pandai saja sudah cukup?
Cerita di bawah
ini adalah contohnya:
Cerita 1
“Siapa yang
sudah selesai makan boleh bermain masak – masakan” kata ibu.
”Asyik... Zahrah yang sudah selesai makan bergegas turun mengambil mainan.
Sementara Kakak yang
belum selesai berkomentar “Zahrah, sudah minum dan cuci tangan belum?”…
“O ya…”. Zahrah kemuduan mencuci tangan.
Saat Zahrah mencuci tangan si kakak mengambil mainan yang ditinggalkan Zahrah.
Tak lama setelah
itu terjadilah keributan.
Cerita 2
Wawa suka
sekali dengan Kucing. Suatu hari ia menemukan kucing kecil yang lucu…
“Ibu, bolehkah Wawa memelihara
kucing?”
Ibu menjawab "Wawa, kalau Wawa bisa mengurus
kucing sendiri, Wawa boleh memeliharanya”.
Wawa diam, tapi
sepanjang jalan ia terus memikirkan kucing tersebut.
Manusia memliki
akal, nafsu, dan hati. Akal digunakan untuk berfikir, mencoba menyelesaikan
suatu permasalahan berdasar pengalaman dan ilmu, melihat kejadian di lapangan,
mengumpulkan fakta, dll. Manusia juga memiliki keinginan – keinginan dan
kecenderunga – kecenderungan yang sering disebut sebagai nafsu. Manusia meiliki
raa, dapat merasakan sedih, cemas, takut, dll bergantung dari keadaan yang
sedang berlangsung.
Jika kita tidak
terdidik, kita akan menggunakan akal dan perasaan kita untuk membenarkan
keinginan – keinginan kita. Terjadilah pembenaran yang jauh dari kebenaran
(Lihat cerita 1).
Jika perasaan
kita tidak terdidik, kita akan berusaha mengendalikan keinginan – keinginan
berdasarkan alas an – alas an yang diterima akal kita, namun kita merasa sedih,
tidak puas, dan depresi. Terjadilah keterpaksaan bukan ketulusan (lihat cerita
2).
Jika kita tidak
dapat mengendalikan nafsu dan perasaan kita, kita akan sulit untuk menerima dan
menerapkan kebenaran. Itulah sebabnya nafsu dan rasa perlu mendapatkan
pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar